Alasan utama konsumen Indonesia lebih memilih belanja on-line dibanding toko fisik adalah: harga lebih murah (68%), lebih banyak pilihan (57%), promo/deal/sale (48%), lebih mudah/nyaman (47%), dan layanan pengiriman (46%).
Basic Supervisor YouGov Indonesia & India Edward Hutasoit mengatakan pertumbuhan transaksi dan pengguna berjalan beriringan dengan perubahan preferensi konsumen.
“Konsumen kini lebih cerdas, lebih selektif, dan menuntut price for cash lebih besar, kecepatan pengiriman, serta personalisasi lebih baik. Platform dan penjual harus cepat beradaptasi untuk memenuhi ekspektasi ini,” ujar Edward dalam siaran pers, Selasa (16/9/2025).
Market tetap menjadi kanal utama penemuan produk, sedangkan preferensi kanal kedua berbeda menurut generasi; Gen Z mengandalkan influencer, Millennials pada ulasan produk, dan Gen X pada rekomendasi keluarga atau teman.
Riset tersebut menyebutkan 2 hal yang menjadi faktor berpengaruh. Pertama, price for cash. Worth for cash tidak lagi sekadar harga murah. Namun, konsumen mempertimbangkan harga produk, ongkos kirim, kecepatan pengiriman, serta keseluruhan pengalaman belanja.
YouGove menemukan 2 dari 3 konsumen menyebut ongkos kirim tinggi dan waktu pengiriman lama sebagai kekhawatiran utama. Lalu, 79% konsumen on-line selalu mencari promo saat berbelanja, dengan free of charge ongkir sebagai insentif paling dicari sekaligus jawaban atas kekhawatiran utama mereka.
Sebanyak 1 dari 4 konsumen juga merasa algoritma rekomendasi produk masih belum sesuai selera, meski mereka lebih responsif terhadap iklan yang dipersonalisasi.
Kedua, video. Riset YouGov menyebut konsumsi video on-line di Indonesia sangat tinggi, dengan video pendek bertema hiburan, komedi, dan kuliner sebagai style paling digemari.
Adapun, preferensi konten berbeda menurut generasi. gen Z memiliki preferensi fesyen dan kecantikan setelah hiburan/komedi; gen X kesehatan dan kebugaran setelah hiburan dan kuliner; serta millennials bisnis dan keuangan.
Bagi platform e-commerce dan emblem, konten video disebut dapat menjadi kanal pemasaran yang efektif.
Misalnya, konten kuliner untuk promosi bahan makanan/peralatan dapur; konten fesyen dan kecantikan untuk produk market untuk gen Z; dan konten finansial untuk produk gaya hidup dan kebutuhan sehari-hari
“Seiring dengan konsumen Indonesia semakin nyaman berbelanja on-line, emblem dan platform harus terus berevolusi. Survei ini dirancang untuk membantu mereka menghadirkan pengalaman belanja yang non-public dan relevan, menyesuaikan strategi dengan perilaku tiap generasi, serta mengintegrasikan konten kreatif sebagai sarana pemasaran,” tutup Edward.

Tinggalkan Balasan